HUTAN, KAWAN ATAU LAWAN?
(Oleh : Ajeng Pratiwi)
Mahasiswi UIN Sunan Gunung Djati Bandung
“Kawan”
? Mendengar kata tersebut mungkin yang terlintas dalam benak kita adalah
sesosok manusia yang bersahabat dengan kita dan dekat juga patut kita sayangi.
Namun apa jadinya jika hutan kita jadikan kawan? Apa perlu ? jawabannya tentu
Ya! Sadarilah kita manusia sebagai mahluk sosial mempunyai prinsip saling
membutuhkan dan saling ketergantungan namun pada zaman sekarang ini, mainset
para masyarakat pada prinsip tersebut hanyalah sebatas saling membutuhkan dan
ketergantungan pada manusia lagi. Padahal jelas ini merupakan hal yang salah,
mengapa salah? Karena pada hakikatnya manusia juga harus bersahabat dengan alam
dengan kata lain merawatnya dan tidak merusaknya, juga bukan hanya sekedar
bersahabat dengan manusia lainnya. Penting bagi kita semua untuk menjaga dan
melestarikan hutan, karena faktanya daerah aliran sungai dan lahan basah di
hutan memasok 75% persediaan air tawar dunia untuk kebutuhan sehari-hari,
pertanian, industri dan ekologi. Maka dari itu jika hutan dibumi ini semakin
rusak bisa dipastikan akan terjadinya krisis air yang sangat luar biasa, dan
akan menganggu kegiatan manusia sehari hari baik itu industrial ataupun non
industrial, karena pasokan air dari air hujan yang diserap oleh tumbuhan2 kecil
belum cukup untuk memenuhi kebutuhan air di negara kita ini, hutanlah yang
menjadi pemasok ketersediaan air terbesar dalam kehidupan.
Kembali
lagi pada hakikat manusia yang dalam kesehariannya sangat membutuhkan air
karena air merupakan komponen utama dalam keberlangsungan hidup. Lalu apa
jadinya jika hutan dimuka bumi ini telah beralih fungsi yang tadinya membawa
berkah menjadi membawa bencana? Yang dahulunya asri, lebat, dan kaya akan
sumber daya alam hayati sekarang telah miskin? Bisa dibayangkan keberlangsungan
hidup manusia akan terganggu, dan tidak hanya itu, ekosistem tumbuhan dan hewan
pun akan terganggu pula sehingga mengakibatkan kelangkaan hewan dan tumbuhan
yang terus meningkat dari tahun ke tahun, sungguh ini merupakan ancaman yang
buruk bagi ekosistem di negeri ini.
Selain
ancaman keterbatasan air dan berkurangnya ekosistem, salah satu masalah krusial
yang dialami oleh masyarakat akibat hutan yang rusak adalah krisis udara bersih
(oksigen), mengingat hutan adalah penyumbang oksigen terbesar dimuka bumi ini
karena hampir 90% udara bersih dihasilkan oleh hutan, namun yang terjadi pada
zaman sekarang ini adalah eksploitasi hutan berlebihan, berbagai bentuk
eksploitasi berlebihan ini menjadi bentuk kejahatan yang sering terjadi,
seperti penebangan pohon secara illegal, penambangan pasir illegal, pembakaran
lahan hutan illegal, dan masih banyak kegiatan illegal lagi yang lainnya, dapat
dibayangkan bagaimana jika negara kita ini mengalami krisis udara bersih? Semua
kegiatan manusia akan lumpuh, pada era sekarang saja sudah mulai terasa
bagaimana susahnya mencari udara bersih, dimana mana yang ada hanyalah polusi
yang mengotori udara, jika ingin mendapatkan oksigen kita harus pergi ke tempat
tempat yang memiliki tumbuhan lebat, jika kita semua bisa renungkan, hutan
adalah anugrah Allah yang patut kita syukuri, ia menghasilkan begitu banyak
oksigen secara cuma cuma, jika kita menengok pada sudut pandang yang berbeda,
misalnya dirumah sakit, oksigen itu sangatlah mahal, harga satu tabungnya bisa
mencapai berjuta juta, dan hutan? Hutan menyediakannya secara Cuma Cuma alias
gratis, asal kita bersedia untuk merawat dan melestarikannya, bukannya malah
mengeksploitasi secara gila gilaan tanpa memikirkan dampak untuk kedepannya,
dan rata rata kejahatan eksploitasi hutan ini dilakukan oleh oknum oknum yang
tidak bertanggung jawab yang hanya mementingkan kepentingannya sendiri, oknum
oknum tersebut bisa dikatakan “menjual masa depan demi masa sekarang” jelas ini semua merupakan kejahatan Alam yang
sangat luar biasa dan sangat merugikan manusia dimasa sekarang. Jika pada zaman
sekarang saja sudah terasa berbagai kerugian yang diakibatkan oleh hutan yang
sudah tak berkawan lagi, lalu bagaimana dampak yang akan dirasakan oleh
generasi masa depan? Mungkin akan semakin parah saja.
Lalu
tahukah anda tanggal 21 Maret diperingati sebagai hari apa? Ya tanggal 21 maret
diperingati sebagai Hari Hutan Sedunia yang dalam bahasa inggrisnya dikenal
dengan Internasional Day of Forests. Ditetapkannya tanggal 21 Maret sebagai
Hari Hutan Sedunia oleh PBB dengan tujuan mengingatkan kepada seluruh manusia
yang ada di bumi tentang pentingnya hutan dalam keberlansungan hidup manusia.
Sehingga manusia akan dapat menghargai, mencintai, melindungi, dan menjaga
hutan sebagai bagian dari diri kita sendiri. Selain manusia, hewan dan
tumbuhan, hutan juga merupakan salah satu ciptaan Tuhan yang memberikan
kontribusi besar dalam keberlansungan kehidupan semua mahluk dimuka bumi maka
dari itu, sudah sepatutnya kita sebagai mahluk yang paling sempurna yang diciptakan
Tuhan dimuka bumi ini seharusnya tau cara melestarikan hutan dengan baik
sehingga hutanpun akan memberikan hasil yang baik pula. Indonesia sebagai salah
satu penyumbang oksigen terbesar di dunia memiliki andil yang sangat besar
dalam masalah ini, kawasan hutan Indonesia mencapai 162 juta hektar tak heran
Indonesia patut dijuluki sebagai paru paru dunia, Indonesia adalah pemilik
hutan hujan tropis terluas ketiga di dunia, setelah Brasil dan Kongo. Sayangnya
Indonesia juga adalah negara yang memiliki tingkat kehancuran hutan tercepat di
antara negara-negara yang memiliki 90 persen dari sisa hutan di dunia (buku
Rekor Dunia Guinness). Sungguh ironis bukan? Oleh karena itu, untuk
mengingatkan dan meningkatkan kesadaran setiap manusia agar selalu menjaga dan
melestarikan hutan, Internasional Day of Forests digalakkan secara rutin tiap
tahunnya diseluruh dunia.
Untuk
itu ada berbagai macam solusi untuk mengatasi masalah ini, misalnya dengan
mengadakan perayaan atau sosialisasi yang dihadiri oleh sosok penting misalnya
mentri kehutanan atau tokoh lainnya agar menarik masyarakat untuk menghadiri
acara tersebut, Kegiatan ini dapat memberikan manfaat bagi masyarakat untuk
masa depan, terutama bagi generasi muda bangsa. Manfaat dari kegiatan ini bagi
generasi muda adalah dapat mengenalkan berbagai pengetahuan tentang hutan di
negerinya, menanamkan kepedulian sejak dini terhadap lingkungannya, memelihara,
menjaga dan melestarikan hutannya, sehingga dimasa depan kita yang sudah tua
nanti dapat dengan tenang menghirup udara segar karena anak dan cucu kita
selalu menjaga dan memanfaatkan lingkungan dan hutannya dengan baik dan
bijaksana. Selain itu cara lain untuk melestarikan hutan yaitu melakukan
pendekatan yang lebih komprehensif dan berkesinambungan kepada masyarakat, lalu
dengan program “OPOT” atau “one person one tree” dimana setiap 1 orang
dianjurkan untuk menanam 1 pohon, cara semacam ini akan cukup membantu krisis
oksigen (udara bersih) yang dialami masyarakat dinegara ini. Saya yakin, solusi
sudah banyak diberikan oleh berbagai pihak, entah itu dari masyarakat, ilmuan
atau ahli, bahkan dari pemerintah, namun tetaplah kesadaran dari dalam diri
sendiri yang harus dibentuk dan rasa cinta yang kuat terhadap alam dengan menjadikan alam sebagai
bagian dari diri kita sendiri. Maka dari itu marilah mulai detik ini kita
lestarikan alam ini dengan baik agar alampun baik pada kita.
Nama : Ajeng Pratiwi
TTL : Bandung, 18 Desember 1997
IG : ajengprtw18_
0 Response to "HUTAN, KAWAN ATAU LAWAN?"
Post a Comment